Memasuki abad 21 ini, pengangguran menjadi pokok permasalahan yang dihadapi negara. Ironisnya kaum tunakarya ini didominasi dengan sarjana. Penyebabnya dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal, diantaranya menyempitnya lapangan kerja yang ada, sedangkan disisi lain pesatnya lulusan PT tidak diimbangi dengan permintaan dari dunia usaha. Setiap kali perguruan tinggi melakukan “hajatan ritual” akademik berupa wisuda, pundak para sarjana semakin murung disertai ketidakjelasan arah mau ke mana. Para sarjana ternyata masih harus memposisikan diri sebagai individu dalam masa transisi untuk mengadu nasib mencari sesuap nasi. Kebanyakan PT tidak mempersiapkan para lulusan untuk memiliki kompetensi dan etos kerja yang memadai untuk menjadikan mahasiswa mandiri dan berjiwa entrepreneurship. Bahkan, opini yang berkembang dimasyarakat mengatakan, kampus adalah pabrik pengangguran yang produktif. Opini ini setidaknya dikarenakan beberapa hal, pertama, kampus tidak memberi jaminan atau garansi mendapatkan pekerjaan kepada para lulusannya. Kedua, kampus tidak memetakan (melakukan survei) kebutuhan tenaga kerja didunia usaha tiap tahun. Pengembangan soft skill di kampus tidak tersistematisasi dalam aktivitas akademik (kurikulum) ataupun kegiatan ekstrakurikuler, sehingga tidak heran jika lulusan kampus tidak mampu memenuhi tuntutan dunia usaha. Akibatnya, tenaga kerja sarjana/diploma melimpah, tetapi dibekalo dengan soft skill rendah. Employability skill tidak ditumbuhkan dalam aktivitas akademik kampus seperti hard skill (information-communication-technology/ICT skill), numeracy & literacy skill( interpretasi data dan angka), dan language skill (Inggris, China dan Jepang). Sementara, soft skill yang dibutuhkan dunia usaha meliputi manajemen diri, kemampuan teamwork, inisiatif dan terobosan pemikiran, pemecahan masalah dan pengambilan keputusan, komunikasi efeketif, serta perencanaan dan pengorganisasian pekerjaan.
Semakin membludaknya lulusan uiversitas yang berkapasitas serba tanggung, yang hanya mengandalkan IPK tinggi, dan tidak aplikatif, membuat mereka semakin sulit bersaing dalam merebut lapangan pekerjaan dalam masyarakat Tidak sedikit orang yang akhirnya mengandalkan sejumlah uang pelicin agar bisa lulus dan diterima menjadi PNS. Akibatnya setelah diterima jadi PNS pun kapasitas yang dimilikinya tidak menjamin bisa bekerja secara maksimal.
Alternatif lain untuk mereka yang tidak mampu bersaing berebut lowongan pekerjaan adalah memilih pekerjaan apa adanya, yang penting dapat kerja, walau tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Bukan hanya itu, ujung-ujungnya mereka mejandi penganggur dengan intelek tanggung. Lebih parah lagi sarjana yang perempuan, mereka sangat mudah terkubur sebagai penganggur dan kembali ke dapur atau menjadi ibu rumah tangga saja.
Pengangguran berdampak pada ketiadaan pendapatan yang menyebabkan penganggur harus mengurangi pengeluaran konsumsinya yang menyebabkan menurunnya tingkat kemakmuran dan kesejahteraan. Artinya, taraf hidup masyarakat tidak mengalami perbaikan tapi justru membuat membludaknya masalah kemiskinan. Pengangguran yang berkepanjangan juga dapat menimbulkan efek psikologis yang buruk terhadap penganggur dan keluarganya, salah satunya dapat menyebabkan kekacauan politik keamanan dan sosial dan politik sehingga mengganggu pertumbuhan dan pembangunan ekonomi. Akibat jangka panjang adalah menurunnya GNP dan pendapatan per kapita Negara, khususnya untuk negara berkembang seperti Indonesia hal ini sangat membahayakan kondisi perekonomian secara keseluruhan.
Jika dikaji lebih mendalam lagi dari perspektif sosiologi, meningkatnya pengangguran terdidik sangat membahayakan. Para penganggur yang berada dalam tingkat stress tidak mendapat pekerjaan yang diinginkan itu sangat rentan melakukan tindak kriminalitas. Bahkan dengan kemampuan intelektual yang dimiliki, para sarjana pengangguran itu bisa menciptakan kejahatan baik didunia nyata maupun dunia maya (internet). Seperti pembobolan bank melalui situsnya, penyebaran virus komputer yang mematikan, sampai mengacak-acak data kependudukan. Kejahatan yang menjamur tak ayal akan meresahkan masyarakat. Gejolak sosial akan meningkat dan pelan tapi pasti akan berpengaruh pada kestabilan keamanan negara.
Solusi untuk mengatasi persoalan pengangguran, hal pertama yang perlu dikembangkan secara maksimal adalah menumbuhkan komitmen wirausaha (entrepreneurship) khususnya dikalangan pemuda, supaya mereka tidak hanya berekspektasi menjadi pegawai negeri atau pegawai kantoran atas dasar gengsi dengan gelar sarjana. Mereka diharapkan tidak menjadi para pencari kerja di instansi pemerintah maupun swasta, melainkan harus mampu menciptakan peluang kerja sendiri.
Guna menekan kenaikan jumlah pengangguran terdidik, tidak ada pilihan bagi perguruan tinggi (PT) dan dunia pendidikan untuk mengubah paradigma. Jika semula lebih menekankan pada aspek kecerdasan konseptual (kognitif), kini harus dibarengi penanaman jiwa kewirausahaan (entrepreneurship). Pasalnya, berbagai penelitian menunjukkan keberhasilan mahasiswa bukan ditentukan kepandaian yang dipunyai, tetapi oleh faktor lainnya yang sangat penting. Singkatnya, tingkat kecerdasan hanya menyumbang sekitar 20%-30%, sementara jiwa kewirausahaan yang didukung kecerdasan sosial justru menyumbang 80% keberhasilan anak di kemudian hari.
Seorang entrepreneur akan berani mengambil risiko, inovatif, kreatif, pantang menyerah, dan mampu menyiasati peluang secara tepat. Lebih dari itu, jiwa dan semangat kewirausahaan juga sangat urgen dalam menentukan kemajuan perekonomian suatu negara. Bukan hanya ketepatan prediksi dan analisis yang tepat, melainkan juga merangsang terjadinya invensi dan inovasi penemuan-penemuan baru yang lebih efektif bagi pertumbuhan ekonomi.
Disisi lain kampus sebagai media proses belajar mahasiswa harus mampu mengembangkan softskill yang diberikan kepada para mahasiswa. Perlu tenaga pengajar professional untuk memfasilitasi pengembangan soft skill tersebut. Universitas juga harus mampu bertanggungjawab penuh terhadap mahasiswa hasil output-nya. Tidak hanya ketika mengenyam pendidikan di bangku kuliah saja, namun ketika lulus pun pihak universitas dalam hal ini masih punya beban moral, sosial, dan kredibilitas kepada para alumninya. Universitas harus memperluas hubungannya dalam bermitra dengan perusaahaan-perusahaan yang memerlukan tenaga-tenaga baru yang berkompetisi dibidangnya.
Pemerintah dalam kapasitasnya juga ikut bertanggungjawab dan memiliki peran serta dalam menciptakan keseimbangan antara dunia pendidikan (universitas) dan kebutuhan masyarakat saat ini, baik dari segi pengembangannya maupun proses kegiatan aplikasinya. Perlu adanya kebijakan-kebijakan baru yang mengatur dunia ketenagakerjaan dan jaminan kesejahteraan bagi karyawan. Selain itu, fasilitas peminjaman modal untuk usaha menengah kebawah juga sangat diharapkan guna mendorong semangat berwirausaha.
Setelah menelaah dari berbagai aspek, pengangguran bergelar sarjana di Indonesia setidaknya dapat ditekan sedemikian rupa, supaya untuk kedepannya negara Indonesia menjadi negara yang mempunyai pemuda berintelektual tinggi, mandiri, kreatif, dan inovatif melihat peluang yang ada. Para sarjana tidak harus berorientasi untuk bekerja di perkantoran swasta atau PNS atas dasar gengsi dan beban mental. Budaya berwirausaha akan lebih bagus jika dibandingkan dengan menjadi pengangguran sambil menunggu kesempatan kerja yang tersedia. Kebutuhan hidup yang semakin kompleks selalu menuntut pemikiran-pemikiran baru yang segar untuk menciptakan product dan ide bisnis guna lebih mensejahterakan kehidupan bersama.